RaFika

RaFika
Oleh : Muhamad Wijanarko
Raka masuk ke kelasnya seperti biasa. Tak ada yang aneh hari ini, semua tampak normal. “Hai Raka!” panggil andien. “Hai ndin” jawab raka. “Udah ngerjain tugas fisika belum ka ? Liat dong” andien berkata dengan wajah setengah memelas. “Udah kok, liat aja” kata Raka sambil memberikan buku catatan fisikanya. Raka, 16 tahun, ini tahun keduanya sebagai pelajar SMA. Di semester 3 ini, perilaku, kecerdasaan, kemampuan berolahraga dan bermusik Raka telah diakui oleh teman-temannya. Meskipun ia tipe yang cuek, tapi banyak pula yang berkata bahwa ia sebenarnya orang yang peduli terhadap sesama. Kenyataan bahwa ia juga merupakan anak dari Direktur Bank dari salah satu Bank BUMN dan wajahnya yang rupawan menjadikannya salah satu “sexiest man alive” di SMAnya.
“eh udah denger gossip tawuran sama Jayalassa kemaren belum ? katanya rusuh banget sampe polisi juga engga bisa ngapa-ngapain” kata seseorang. Raka mendengarnya, ia sendiri tak ingin berkomentar banyak. Selesai sekolah, Raka pun langsung menuju ke toko buku yang tak jauh dari sekolahnya dengan Honda Jazz Putih miliknya. Olimpiade Astronomi tinggal sebentar 3 bulan lagi, Raka merasa ia butuh belajar lebih banyak dari yang sebelum-sebelumnya. Setelah mengambil beberapa buku Astronomi, ia pun membayarnya di kasir. “Wah Raka! nyari buku apalagi? Astronomi ya?” tanya Mbak Dian. Ia mengenal Raka sejak Raka masih disekolah dasar, dan memang toko buku yang ia kunjungi sudah menjadi langganan keluarga Raka. “Iya mbak, bentar lagi ada lomba. Jadi butuh persiapan” jawab Raka. “Oh gitu. Wah sukses ya. Oiya, novel fiksi ilimiahnya ada yang baru tuh, coba diliat-liat siapa tahu ada yang suka” kata Mbak dian. Raka melihat jam, masih ada satu jam waktu kosongnya. Ia pun mengikuti saran Mbak Dian.
Raka sedang berdiri melihat-lihat ketika ada yang menyenggolnya dari belakang. “aduh, maaf ya” ucap seorang gadis. “Oh gapapa kok, itu buku puisinya ada yang jatuh” jawab raka. Alih-alih membantu, Raka hanya diam berdiri. Pikirannya berkelebat mencari tahu siapa gadis itu. Wajah cantiknya tak familiar, Ia pun merasa ini pertama kalinya ia melihat gadis tersebut. Setelah merapikan kembali susunan bukunya, Gadis itu berdiri tegak, terlihatlah batch SMA Jayalassa, SMA yang selama ini jadi musuh SMA Raka, SMA Rangkasa. “Oh dari Jayalassa ya ?” tanya Raka. “Oh, iya” gadis tersebut menjawab seadanya, mengisyaratkan ingin segera mengakhiri pembicaraan dan pergi.
“Hmm aneh, ekspressinya biasa aja. Apa dia ngga liat batch SMA gue ya?” pikir Raka. Raka tak seperti biasanya dan memang bukan sifatnya untuk memikirkan seorang gadis, tapi kali Ia merasa gadis yang baru ia temui itu menarik. Rambut hitamnya panjang sebahu, wajahnya sedikit oriental dengan matanya yang coklat terang. “Coklat terang? Ah pasti soft lens, emang ada ya orang Indonesia matanya coklat seterang itu” pikir raka. Tapi yang paling menarik menurut Raka adalah Ia menemui gadis ini di toko buku, bukan di depan salon, distro, bioskop ataupun Factory Outlet.
____
Fika baru pindah satu minggu yang lalu. Ia kini terdaftar sebagai siswi kelas XI.3 di SMA Jayalassa, SMA yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Ia senang berjalan-jalan dan membaca buku. Fika belum sepenuhnya hafal daerah barunya, itulah mengapa ia sering sekali berkendara keliling keluar setelah pulang sekolah. Salah satu agendanya, mencari toko buku yang nyaman dan ada cafenya.
Hari itu ada rapat Guru, Sekolah pulang lebih cepat, Fika dan teman-temannya memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Makan siang kali itu, Fika sangat senang, teman-temannya ternyata cukup cepat untuk akrab dan melepas tawa dengan mudah. “Beep” bunyi HP Fika. “Fika, jangan lupa beliin kue buat ulang tahun ayah, sama bawain kado kalo bisa ya. Makasih. Bunda”. “eh temen-temen, gue balik dulu yaa. Lupa nih harus beliin kue buat ultah bokap” kata fika. “Oh iya, gapapa fik. Met ultah jga buat bokap lo ya. Panjang umur selalu yaa” jawab temannya. “Iya makasih ya doanya” Fika menjawab dengan bergegas. Fika ingat ada toko kue yang enak di seberang sebuah sekolah. Pamannya pernah mengantarnya dan membelikannya dulu ketika ia pertama kali datang.
Fika masih mengendarai Mio putihnya ketika ia melintas jalan menuju Toko Kue dan dicegat oleh beberapa siswa SMA. “Eh lo anak jayalassa ngapain kesini ? nyari masalah ya?” kata seorang siswa dengan nada keras. “Gue mau beli kue, terus kenapa?” jawab Fika ketus. “Lah emang lo gatau ini wilayah siapa? Udah kalo mau lewat bayar dulu sini gocap” kata salah satu siswa. “Engga, gue gatau. Idih apaan sih lo malakin cewe. Engga mau gue” Fika bersikukuh tak mau memberikan uangnya.
____
Raka sedang mengendarai mobilnya keluar dari sekolah. Ia melintasi beberapa siswa putra yang mengerumuni seorang siswi. Ekspressi matanya tak menunjukkan ia sedang dalam kondisi yang senang. Raka meminggirkan mobilnya. “Eh itu raka kan ya? Wah gawat nih urusannya kalo sampai ketahuan guru” kata seorang siswa. “Hei, lo mau ngapain sama itu anak ?” Raka berjalan dari belakang dengan nada sedikit keras. “Kalo mau malak jangan malak cewek, lo jadi cowok ada tata kramanya dong” Raka mendekat. “Cih, untung lo deket ama guru. Kalo engga udah gue hajar lo” kata seorang siswa. “Kalo mau ngehajar gue, hajar aja. Palingan lo udah engga pake baju SMA lusa depan” ancam Raka. Ancaman Raka cukup membuat gerombolan siswa tersebut enggan meneruskan aksi mereka. “Oke, kali ini lo selamat, tapi...” belum selesai melanjutkan katanya, siswa tersebut menusuk ban motor siswi hingga bocor. “Eh, apa-apaan lo!” ujar siswi tersebut tak terima. “Hahaa bye bye broo. Selamatin aja tuh cewe ya” kata seorang siswa. Mereka kemudian lari menjauh.
“Sialan banget tuh orang, nyusahin banget” kata sang siswi. “Oiya, makasih banget ya udah ngebantuin gue” siswi itu menatap Raka. Ia melepaskan helm dan maskernya. Raka kaget. “Lo yang di Toko Buku itu ya? Ah iya gue inget lo nabrak gue waktu itu” kata Raka. “Oiya? duh maaf ya. Gue ngerepotin terus” jawab fika. “Raka” ujar raka. “Fika” fika menjawab tersenyum. “Motor lo bannya bocor tuh, bareng gue aja kalo lo mau, lo mau kemana?” Tanya raka. “Gue mau beliin kue buat bokap gue sih, tapi makasih tawarannya, gue nyari tambal ban aja ntar” jawab Fika. Raka masih melihat fika dengan tatapan tak biasa. Ia mengeluarkan Handphonenya. “Mas, bisa kedepan sekolah ngga? tolongin raka, motor temen ada yang bocor bannya” Raka menutup Handphonenya. “Gue masih engga tahan kalo ngeliat cewe siang-siang panas gini dorong motor nyari tambal ban” ujar Raka.

Setelah pembantu Raka datang, Raka meminta Fika untuk memberikan kuncinya. “Lo mau ke Toko Kue Mayola ya ?” tanya Raka. “Iya, disitu enak-enak kuenya” Jawab Fika. Mereka pun masuk kedalam mobil. “Nih, pake ini. Jangan sampai anak-anak rangkasa ngeliat batch jayalassa lo” raka memberikan Jaketnya. “Kenapa sih emang jayalassa sama rangkasa ?” tanya Fika. “Sekolah kita, hmm.. apa ya? sering berantem deh pokoknya. Emang lo gatau banget ?” ujar Raka. “Gue baru pindah 2 minggu lalu sih, jadi ngga terlalu tau” jawab Fika. Sadar akan hal itu, Raka bisa memaklumi ketidaktahuan Fika.

Comments

Popular posts from this blog

When we make a new friends..

What My Name Means