Aku Malaikat

Aku Malaikat
oleh       : Muhamad Wijanarko
Magelang, di akhir tahun 80an, ia masih kota yang sangat sejuk. Waktu itu pula, belum ada Armada Town Square, yang ada hanya beberapa toko serba ada di alun-alun kota. Seperti biasanya sebelum hari raya aku pulang. Aku masih ditahun keduaku sebagai mahasiswa di Universitas Negeri di jojgjakarta waktu itu. Dipertigaan Bengkal, aku turun. Rumahku di desa semen, windusari, masih beberapa kilometer berjalan kaki lagi dari sini.
Ayahku hanya seorang petani. Ia punya beberapa lahan sawah, meskipun tak banyak. Kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan diriku untuk bergantung sepenuhnya pada orang tua. Dirumah, semua berkumpul, ramai seperti biasanya karena kami 8 bersaudara. Hari itu sebenarnya aku sedikit sedih, aku tak bisa memberi ibuku apa-apa, meskipun ibu sangat mengerti uang hasil kerjaku habis aku pakai untuk membayar uang semesteran.
Beberapa hari kemudian, aku harus kembali ke jogja lagi. Aku berpamitan pada ibu dan ayahku. Ibu kemudian memberiku sejumlah uang, 1000 rupiah. “Semoga cukup ya no” kata ibu. “Iya bu, insyaallah cukup” jawabku. Aku berterimakasih pada ibuku, ia sangat pengertian, meskipun aku sulit berpikir untuk hidup dengan 1000 rupiah sampai bulan depan, setidaknya sampai aku gajian. Aku hanya berdoa agar uang yang diberikan ibuku barakah. Waktu itu sendiri, harga telur masih 30-50 rupiah.
Aku berjalan dari rumah, jaraknya masih 4 kilo dari pertigaan bengkal. Tak lama aku berjalan, suara klakson motor mengagetkanku, “bengkal? Ayo bareng” katanya. Aku tak kenal, tapi kuterima tawaran baiknya. Sampai di pertigaan bengkal aku naik bis kecil ke terminal. Setibanya di terminal, aku hendak membayar ongkos bis ke kondektur sebelum ia berkata “udah mas, udah dibayarin sama bapak tadi”. Aku tak sempat melihatnya turun, tapi ku ucapkan terimakasih dari dalam hatiku.
Siang itu, aku tak sempat makan. Sebenarnya aku menghemat makan siangku, aku hanya minum teh manis yang disediakan gratis didekat masjid tadi setelah sholat dzuhur. Aku naik bis tujuan jombor. Aku duduk dibarisan paling belakang. 10 menit perjalanan aku masih terjaga. Entah karena lapar atau capek, aku tertidur.
Aku terbangun. Kulihat semua bangku sudah kosong. Si Kondektur berjalan dari depan ke arahku. Aku ingat belum membayarnya. “Ini mas kembaliannya” katanya. Kulihat uang 9.900 ditangannya. Aku kaget. “Loh mas ? saya belum bayar” kataku. “Lah? Kamu tadi yang ngasih saya uang sepuluh ribu. Saya ingat kok” balasnya cepat. “ Beneran mas, saya belum bayar” kataku. “Mas ini becanda ya? Ini uang kembaliannya. Bisnya mau dibersihin” katanya sambil menyodorkan uang itu ketanganku. Aku masih ling-lung ketika menerimanya. Setibanya dikosan, aku masih tak percaya ada uang 10.000 rupiah lebih ditanganku sekarang. Aku berpikir, pagi ini dapat tumpangan, ongkos bisku dibayar oleh orang lain, dan seorang kondektur memberiku uang. Terlalu sulit untuk menjelaskannya secara logika, tapi aku merasa sangat bersyukur atas bantuan-bantuan itu.
            Sejak saat itulah, aku semakin percaya, meskipun dengan kondisi yang sulit, jika kita mendapat restu orang tua, tetap berdoa, dan berusaha maka bantuan Allah SWT akan selalu ada.

Comments

Popular posts from this blog

When we make a new friends..

What My Name Means