Aku Malaikat oleh : Muhamad Wijanarko Magelang, di akhir tahun 80an, ia masih kota yang sangat sejuk. Waktu itu pula, belum ada Armada Town Square, yang ada hanya beberapa toko serba ada di alun-alun kota. Seperti biasanya sebelum hari raya aku pulang. Aku masih ditahun keduaku sebagai mahasiswa di Universitas Negeri di jojgjakarta waktu itu. Dipertigaan Bengkal, aku turun. Rumahku di desa semen, windusari, masih beberapa kilometer berjalan kaki lagi dari sini. Ayahku hanya seorang petani. Ia punya beberapa lahan sawah, meskipun tak banyak. Kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan diriku untuk bergantung sepenuhnya pada orang tua. Dirumah, semua berkumpul, ramai seperti biasanya karena kami 8 bersaudara. Hari itu sebenarnya aku sedikit sedih, aku tak bisa memberi ibuku apa-apa, meskipun ibu sangat mengerti uang hasil kerjaku habis aku pakai untuk membayar uang semesteran. Beberapa hari kemudian, aku harus kembali ke jogja lagi. Aku berpamitan...