Kesetaran Gender : Sudahkah mimpi RA Kartini terwujudkan ?
Kini
di tahun 2014, 135 tahun sejak kelahiran R.A. Kartini pada tahun 1879,
perspektif mengenai wanita dan cara perlakuan terhadap wanita telah berubah
banyak. Hak-Hak wanita yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini melalui
surat yang dikirimkan kepada temannya di belanda yang akhirnya di kumpulkan
oleh Menteri Budaya, Agama,dan Industri untuk India Timur Mr. J. H. Abendanon pada tahun 1911 (7 tahun setelah kematian R.A.
Kartini) dan diberi judul Door Duisternis
tot Licht (Out of Dark Comes Light)
telah memberikan kontri busi besar terhadap perkembangan hak-hak wanita,
terutama di Indonesia.
Hak-hak
wanita tentu sangat penting diperjuangkan, mengingat Hak Asasi Manusia yang
menyebutkan bahwa “..every human are born
equal..”. Kesetaraan Gender yang berkaitan erat dengan hak-hak wanita,
setidaknya sebagai isu yang sangat hangat dalam beberapa tahun terakhir,
merupakan salah satu bentuk manifestasi kalimat-kalimat yang RA Kartini
tuangkan dalam pemikirannya. Kita paham bahwa kesetaraan gender merupakan sebuah
konstruksi sosial dan karena itu tidak ada satu pun indikator universal yang
bisa digunakan untuk menilai kesetaraan gender. Oleh karena itu sedikit banyak
kesalahpahaman yang terjadi saat ini pada masyarakat yang salah mengartikan kesetaraan
gender, bahkan kaum wanita sendiri.
Dalam
surat pertamanya pada tanggal 25 Mei 1899, RA Kartini menuliskan kalimat
terakhirnya “..Love! what do we know here
of love? How can we love a man whom we
have never known? And how could he love us? That in itself would not be
possible..”. Terlihat jelas bahwa pada saat itu RA Kartini muda sangat kontra
pada budaya jawa yang sangat merugikan wanita. Satu abad lebih kemudian, poin
kesetaraan gender ini setidaknya telah tercapai meskipun beberapa sistem
kekeluargaan mungkin menghambat hak menentukan pasangan ini.
Cukup
banyak poin kesetaraan gender yang RA Kartini utarakan dalam pemikirannya,
mungkin salah satu pemikiran terbesarnya adalah mimpinya untuk dapat belajar di
luar negeri. Edukasi sangat penting bagi wanita, hal ini didukung dengan berbagai
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa intelegensi perempuan sangat
berpengaruh pada kualitas sebuah keluarga. Meskipun ada juga penelitian kontradiktif
(Kanazawa S, 2013) yang menunjukkan bahwa wanita yang terlalu cerdas cenderung
tidak ingin memiliki keluarga dan mempunyai anak. Tetapi perlu dipahami bahwa pendidikan yang tinggi bagi wanita bukanlah
sebuah hambatan melainkan sebuah cara untuk meningkatkan kualitas manusia
secara keseluruhan, tidak hanya bagi perempuan namun juga laki-laki.
Berbagai
impian kesetaraan gender yang RA Kartini harapkan setidaknya telah tercapai ,dimulai
dari segi edukasi, hak reproduksi, pernikahan dan sebagainya, namun perlu di
perhatikan bahwa di perlukan keseimbangan yang kuat agar impian yang di
harapkan RA Kartini ini dapat tercapai dengan optimal.

Comments
Post a Comment